Jenis Kain Tradisional Khas Indonesia

Batik adalah kain tradisional Indonesia yang menjadi populer di dunia internasional. Banyak yang memilih Kain batik sebagai pakaian atau bahkan sebagai oleh-oleh khas Indonesia.

Selain batik, masih banyak jenis kain tradisional Indonesia yang tak kalah cantik dengan nuansa eksotis. Masing-masing memiliki keunikan dan filosofi tersendiri tentang wilayah asalnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan 33 jenis tekstil tradisional sebagai warisan budaya.

Selain batik, jenis kainnya antara lain songket, tenun, ulos dan beberapa jenis kain langka yang sulit ditemukan. Diluncurkan oleh situs web pemerintah daerah masing-masing dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jenis kain tradisional berikut adalah batik-s128.com.

  1. Songket Palembang (Sumatera Selatan)

Jenis kain tradisional yang pertama adalah Songket Palembang. Bukti keberadaan kain songket sejak zaman Sriwijaya terlihat dari jubah yang menutupi patung-patung di kompleks Pura Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Jenis kain ini ditenun dari berbagai jenis benang, salah satunya benang emas, hasil perdagangan dengan orang Tionghoa dan India. Kemampuan membuat buku nyanyian Palembang diturunkan dari generasi ke generasi.

Dalam upacara adat atau pesta pernikahan, pengantin perempuan Palembang biasanya memakai songket lengkap Aesan Gede (ukuran besar), Aesan Pengganggon (peksangko), Selendang Mantri, Aesan Gandek, dan lain-lain. Dari segi kualitas, jenis songket dari Palembang termasuk yang terbaik di Indonesia.

  1. Tenun Siak (Riau)

Kerajinan Siak yang sudah sangat terkenal sejak lama merupakan kerajinan industri dalam negeri yaitu kerajinan anyaman yang disebut kain tenun siak. Awalnya, menenun hanya dikenal di lingkungan keraton sebagai pekerjaan paruh waktu.

Namun, seiring perkembangan zaman, tenun mulai menyebar di luar tembok istana. Tenun siak adalah jenis kain yang dibuat dengan menggunakan bahan katun atau benang sutra dengan motif benang emas seperti rebung, siku, toples manggis dan lain-lain.

Kerajinan Tenun Siak bisa dinikmati sebagai koper atau sebagai oleh-oleh khas Siak. Saat ini, tenun siak semakin diminati oleh para pengepul, masyarakat pengguna dan wisatawan yang datang ke Kabupaten Siak.

  1. Songket Sambas (Kalimantan Barat)

Masyarakat Melayu Sambas mulai mengenal dan mempraktikkan tenun tradisional (baik teknik maupun teknik ikat songket) pada masa pemerintahan Raden Bima (Raya 2, memerintah 1668-1708) dengan gelar Sultan Muhammad Tajuddin. Hingga saat ini, penenunan songket sambas masih banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan keraton dan di sepanjang sungai. Kain tenun sambas jenis ini memiliki corak dan motif yang beragam.

Salah satu ciri khasnya adalah motif pembuatan film. Pucuk rebung berbentuk segitiga, memanjang dan runcing. Disebut rebung karena mewakili rebung muda.

  1. Ulap Doyo (Kalimantan Timur)

Tenun Ulap Doyo adalah seni menenun kain dari suku Dayak Benuaq di Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Disebut Doyo karena bahan utamanya adalah serat Daun Doyo. Berdasarkan usia kerajaan Kutai dan kondisi masyarakat Hindu saat itu, tenun Ulap Doyo dianggap sudah ada dan berkembang sebelum abad ke-17. Dulu, motif tenun Uloyo Doyo bisa digunakan sebagai tanda / ciri seseorang atau identitas sosial.

Kain tenun adat ulap doyo dapat digunakan oleh pria maupun wanita dalam acara adat, tarian dan dalam kehidupan sehari-hari suku dayak benuaq. Tenun Ulap Doyo yang dikenakan setiap hari berwarna hitam, sedangkan Tenun Ulap Doyo yang berwarna-warni dan dihias digunakan dalam upacara adat.

  1. Gringing Tenganan (Bali)

Kain pelit ini merupakan ciri khas dari desa Tenganan yang bentuknya seperti kain tenun. Tidak diketahui secara pasti kapan kain Gringsing jenis ini mulai muncul di Tenganan Pegringsingan. Jenis kain gringsing ini memiliki arti semacam pengusir tulangan. Kain penggiling bisa dikatakan unik, asli dan sekarang sudah sangat langka. Dilihat dari proses pewarnaan, penjilidan, dan penenunan, sehelai kain bisa memakan waktu 1 hingga 10 tahun.

Waktu yang dibutuhkan lebih lama dalam proses pewarnaan yang bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk mencapai warna yang matang. Suku Bali Aga dan masyarakat luar Tenganan percaya bahwa kain Gringsing memiliki kekuatan magis yang dapat melindungi mereka dari rasa sakit dan kekuatan jahat.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *